Kamis, 28 Februari 2013

TEACHER'S DREAM

Ten years ago...
when I was in Junior high school
I kept my polite behavior to my teacher
At that time, I often got punishment
Because I often came late to school
But, it was not my mistake
At that time, I got up at early morning
But, the bus was waited often came late
It got me wrong....
Ten years ago...
My teacher often punish me
without asked me about my reason
but, I except it sincerely
Then, Ten years after I graduated from Junior High School
In this time...
I teach in Junior High School...
The students are very different than ten years ago
The politeness to their teacher (generally) have faded
no respect...
Oh God, ...
If the time come back to ten years ago...
How beautiful my life....
Oh God...
Help me to make my students more better tomorrow...
My students...
Make me smile with your success in the future
Your Success is MY DREAM

Kamis, 21 Februari 2013

IT'S ME


I'm not myself
I have changed
I was tired with my life in the past
I'm still tired now
I will change my world tomorrow
I will do what I want
I want to reach everything in my dream
I want to run as far as I can
It's so far...  to the limit of the wolrd
I  want to fly as high as a bird in the sky
I want to stand in the top of the Sun
I will show to my world who am I
Look! Look at me!
It's ME!



Selasa, 29 Januari 2013

Puisi

GELAP

Meronta tak dapat obati luka 

Menangis tak dapat hilangkan sakit

Berdiam tak sanggup menahan pedih

Perih... yang harus kutanggung sendiri

Berdiri kelemasan menahan luahan rasa

Sepi...   Hampa...

Tersudut di ruang gelap hati ini...

GELAP...

 


Rabu, 16 Januari 2013


NASKAH FRAGMEN
Judul                          : Tunas Bangsa
Tokoh                         :
1.      Sari (Anak dari keluarga yang miskin)
2.      Jamal (kakak Sari)
3.       Untung (teman Jamal/ anak nelayan)
4.     Sekar (anak sekolah/ anak orang kaya/ teman Sari )
5.     Wulan (anak sekolah/ anak orang kaya/ Teman Sari)
Properties                   : payung, pancing, topi, buku, ember
            Di depan sebuah rumah yang sangat sederhana, di tepi Jl. Tunas Bangsa terdapat sebuah pohon besar dan rindang. Di bawah pohon itulah Sari menghabiskan hari-harinya untuk merenung, menghayal, menorehkan mimpi-mimpi indahnya serta melampiaskan keluh kesahnya. Terkadang ia menyalahkan takdir yang membuatnya terlahir di tengah keluarga miskin. Sedang ia memiliki mimpi yang sangat tinggi untuk Bangsa ini.
Siang itu sang Surya enggan menampakkan diri, tak jauh berbeda dengan perasaan Sari. Kabut  hitam berselimut di langit hatinya.
Sari                                 
:
(membuka-buka buku sambil mondar-mandir. Sesekali menatap langit seperti sedang  berfikir). “Seandainya…. Seandainya aku bisa…. Hmmm… Seandainya aku jadi….”
Jamal
:
(Tiba-tiba muncul dari belakang). “Kau mau jadi apa?”
Sari
:
(kaget. Sedikit kikuk). “Hmmm… anu mas… aku pengen…”
Jamal
:
(membentak). “Apa?”
Sari
:
(agak takut). “Hmmm… seperti mereka. Bisa sekolah, punya cita-cita…”
Jamal
:
“kamu mimpi?” (merebut buku Sari dan merobek-robeknya dengan kesal dan membuangnya).
Sari
:
(memungut buku yang sudah robek dan menatap Jamal dengan marah). “Mas Jamal! Kenapa di robek-robek bukunya?”
Jamal
:
(marah). “Karena buku ini yang telah membutakanmu. Membuatmu lupa siapa kita. Kita ini anak orang miskin. Mau makan saja susah.”
Sari
:
“(menangis). Tapi buku ini dari Sekar. Dia bilang, siapapun boleh bermimpi. Sekar pasti marah kalau tau bukunya robek. Mas Jamal Jahat!” (lari meninggalkan Jamal diiringi hujan deras serta petir dan halilintar yang menyambar).
Jamal
:
(mengepalkan kedua tangan dan terduduk lemas di tengah derasnya hujan). “Ya Allah, kenapa jadi begini? Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti hatimu, Sari. Aku hanya ingin kau tau…”
Untung
:
(Membawa ember dan pancing. Menghampiri Jamal dan menepuk bahunya). “Kenapa kamu, Mal? Hujan deras begini sendirian di pinggir jalan”.
Jamal
:
(berdiri dan menatap Untung). “Aku berantem lagi sama Sari”.
Untung
:
“Ada apa to? Saudara Cuma satu kok pakek berantem segala…”
Jamal
:
(menghela nafas). “Sari masih saja terus bermimpi untuk bisa sekolah. Aku bosan melihatnya. Kau tau kan keadaan kita bagaimana?”
Untung
:
“Hidup kita ini udah susah, Mal… jangan dibikin susah lagi. Dibikin enak aja.”
Jamal
:
“Maksudmu apa, Tung?”
Untung
:
“Ya seperti aku ini. (membentangkan dua tangannya yang memegang pancing dan ember). Nggak bisa sekolah ya mancing-mancing dapat ikan dijual lumayan kan? Dapat duwit. He.. he… he… selaluuu… saja Untung.”
           Sekar dan Wulan pulang sekolah dengan pakaian seragam yang rapi dan membawa payung. Mereka menghampiri Jamal dan Untung yang basah kuyup di pinggir jalan.
Sekar
:
“Mas Jamal, mas Untung kenapa hujan-hujanan seperti ini?”
Wulan
:
“Sepertinya mas Jamal sangat sedih? Ada apa?”
Jamal
:
“Ini semua gara-gara kalian! Kalian kan yang mengajari adikku berkhayal tinggi-tinggi? Kalian ngerti kan kalau aku dan Sari nggak mungkin bisa sekolah seperti kalian!”
Sekar
:
“Mas Jamal ini bicara apa sih?”
Wulan
:
“Iya. ada apa ini sebenarnya?”
Untung
:
“Dia tadi berantem sama Sari. Soalnya Sari itu nggak pernah mau menyadari kalau mimpinya itu cuma mimpi di siang bolong. Nggak akan pernah kesampaian.”
Sekar
:
“Astaghfirullah… mas Untung jangan bilang begitu. Semua orang itu berhak punya mimpi.”
Jamal
:
“Omong kosong!”
Wulan
:
“Beneran, Mas Jamal. Tak kasih tau ya, Mas. Di Sekolah itu ada Bea siswa untuk anak yang kurang  mampu.”
Sekar
:
“Iya, bener tuh kata Wulan. Jadi mas Jamal dan Sari juga bisa sekolah. Karena anak-anak seperti kita ini adalah Tunas-tunas Bangsa ini. Jadi semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak.”
Jamal
:
“Oh ya? Aku nyesel udah bentak-bentak Sari. Harusnya aku bisa sedikit lebih sabar.”
Wulan
:
“Sekarang Sari kemana, Mas?”
Jamal
:
“Tadi dia sangat marah dan berlari ke arah sana.” (menunjuk arah jalan).
Sekar
:
“Masya Allah! Kasihan Sari. Ayo, lebih baik kita segera mencari Sari.”
Jamal dan Wulan
:
“Yuk!” (bergegas pergi).
Untung
:
(celingukan). “Weleh… weleh… kok aku ditinggalin sendirian to? Oh iya, berarti aku juga bisa sekolah dong? Hoeee…! Tungguuuu….! Aku ikuuut!” (berlari mengejar teman-temannya).

~SELESAI~



Selasa, 18 Desember 2012


TUNAS BANGSAKU
Mengiringi terbit mentari pagi
Menghantar pulang mentari terbenam
Melewati lorong panjang dan gelap malam
Mengharap secercah sinar sang rembulan

                Jiwa-jiwa yang lelah dan dahaga
                Mata yang nanar di bawah pijar lampu
                Tangan-tangan mungil menari – nari
                Menoreh tinta emas, mengukir harapan

Wajah - wajah polos nan ceria
Derap langkah kaki yang berlarian
Gambaran kejayaan hari esok
Lukisan dunia penuh mimpi dan asa

                Kau lah putra-putri bangsaku
                Kepakkan sayap-sayap perkasamu
                Terbanglah yang tinggi meraih bintang
                Berjuanglah! Tunas Bangsaku..............

 
BY: INN

Sabtu, 10 November 2012

PUISI


          KABUT HITAM
  Seperti  cerah senyum matahari pagi
 Menyinari  kepak sayap- sayap emas
  Gantungkan harapan di awan putih
 Melukis asa dan mimpi seindah pelangI
                            
Namun kini....
Matahari itu telah terbenam
Sayap- sayap emas itu telah patah
Oh... awan putih itu, cita dan asa itu...
Sirna sudah terhempas badai kehidupan 

Seperti malam gelap gulita
Seperti langit tiada berbintang
Sejauh mata memandang buta
Kabut hitam di langit hatiku

By: Inn