Kamis, 28 Februari 2013
Kamis, 21 Februari 2013
IT'S ME

I'm not myself
I have changed
I was tired with my life in the past
I'm still tired now
I will change my world tomorrow
I will do what I want
I want to reach everything in my dream
I want to run as far as I can
It's so far... to the limit of the wolrd
I want to fly as high as a bird in the sky
I want to stand in the top of the Sun
I will show to my world who am I
Look! Look at me!
It's ME!
Selasa, 29 Januari 2013
Puisi
GELAP
Meronta tak dapat obati luka
Menangis tak dapat hilangkan sakit
Berdiam tak sanggup menahan pedih
Perih... yang harus kutanggung sendiri
Berdiri kelemasan menahan luahan rasa
Sepi... Hampa...
Tersudut di ruang gelap hati ini...
GELAP...
Rabu, 16 Januari 2013
NASKAH
FRAGMEN
Judul : Tunas Bangsa
Tokoh :
1. Sari (Anak dari keluarga yang miskin)
2. Jamal (kakak Sari)
3. Untung (teman Jamal/ anak nelayan)
4. Sekar (anak sekolah/ anak orang kaya/ teman Sari )
5. Wulan (anak sekolah/ anak orang kaya/ Teman Sari)
Properties : payung, pancing, topi, buku,
ember
Di
depan sebuah rumah yang sangat sederhana, di tepi Jl. Tunas Bangsa terdapat
sebuah pohon besar dan rindang. Di bawah pohon itulah Sari menghabiskan
hari-harinya untuk merenung, menghayal, menorehkan mimpi-mimpi indahnya serta
melampiaskan keluh kesahnya. Terkadang ia menyalahkan takdir yang membuatnya
terlahir di tengah keluarga miskin. Sedang ia memiliki mimpi yang sangat tinggi
untuk Bangsa ini.
Siang itu sang
Surya enggan menampakkan diri, tak jauh berbeda dengan perasaan Sari.
Kabut hitam berselimut di langit
hatinya.
|
Sari
|
:
|
(membuka-buka buku
sambil mondar-mandir. Sesekali menatap langit seperti sedang berfikir). “Seandainya…. Seandainya aku
bisa…. Hmmm… Seandainya aku jadi….”
|
|
Jamal
|
:
|
(Tiba-tiba muncul
dari belakang). “Kau mau jadi apa?”
|
|
Sari
|
:
|
(kaget. Sedikit
kikuk). “Hmmm… anu mas… aku pengen…”
|
|
Jamal
|
:
|
(membentak). “Apa?”
|
|
Sari
|
:
|
(agak takut). “Hmmm… seperti
mereka. Bisa sekolah, punya cita-cita…”
|
|
Jamal
|
:
|
“kamu mimpi?”
(merebut buku Sari dan merobek-robeknya dengan kesal dan membuangnya).
|
|
Sari
|
:
|
(memungut buku yang
sudah robek dan menatap Jamal dengan marah). “Mas Jamal! Kenapa di
robek-robek bukunya?”
|
|
Jamal
|
:
|
(marah). “Karena buku
ini yang telah membutakanmu. Membuatmu lupa siapa kita. Kita ini anak orang
miskin. Mau makan saja susah.”
|
|
Sari
|
:
|
“(menangis). Tapi
buku ini dari Sekar. Dia bilang, siapapun boleh bermimpi. Sekar pasti marah
kalau tau bukunya robek. Mas Jamal Jahat!” (lari meninggalkan Jamal diiringi
hujan deras serta petir dan halilintar yang menyambar).
|
|
Jamal
|
:
|
(mengepalkan kedua
tangan dan terduduk lemas di tengah derasnya hujan). “Ya Allah, kenapa jadi
begini? Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti hatimu, Sari. Aku hanya
ingin kau tau…”
|
|
Untung
|
:
|
(Membawa ember dan
pancing. Menghampiri Jamal dan menepuk bahunya). “Kenapa kamu, Mal? Hujan
deras begini sendirian di pinggir jalan”.
|
|
Jamal
|
:
|
(berdiri dan menatap
Untung). “Aku berantem lagi sama Sari”.
|
|
Untung
|
:
|
“Ada apa to? Saudara
Cuma satu kok pakek berantem segala…”
|
|
Jamal
|
:
|
(menghela nafas).
“Sari masih saja terus bermimpi untuk bisa sekolah. Aku bosan melihatnya. Kau
tau kan keadaan kita bagaimana?”
|
|
Untung
|
:
|
“Hidup kita ini udah
susah, Mal… jangan dibikin susah lagi. Dibikin enak aja.”
|
|
Jamal
|
:
|
“Maksudmu apa, Tung?”
|
|
Untung
|
:
|
“Ya seperti aku ini.
(membentangkan dua tangannya yang memegang pancing dan ember). Nggak bisa
sekolah ya mancing-mancing dapat ikan dijual lumayan kan? Dapat duwit. He..
he… he… selaluuu… saja Untung.”
|
|
Sekar dan Wulan pulang sekolah
dengan pakaian seragam yang rapi dan membawa payung. Mereka menghampiri Jamal
dan Untung yang basah kuyup di pinggir jalan.
|
||
|
Sekar
|
:
|
“Mas Jamal, mas
Untung kenapa hujan-hujanan seperti ini?”
|
|
Wulan
|
:
|
“Sepertinya mas Jamal
sangat sedih? Ada apa?”
|
|
Jamal
|
:
|
“Ini semua gara-gara
kalian! Kalian kan yang mengajari adikku berkhayal tinggi-tinggi? Kalian
ngerti kan kalau aku dan Sari nggak mungkin bisa sekolah seperti kalian!”
|
|
Sekar
|
:
|
“Mas Jamal ini bicara
apa sih?”
|
|
Wulan
|
:
|
“Iya. ada apa ini
sebenarnya?”
|
|
Untung
|
:
|
“Dia tadi berantem
sama Sari. Soalnya Sari itu nggak pernah mau menyadari kalau mimpinya itu
cuma mimpi di siang bolong. Nggak akan pernah kesampaian.”
|
|
Sekar
|
:
|
“Astaghfirullah… mas
Untung jangan bilang begitu. Semua orang itu berhak punya mimpi.”
|
|
Jamal
|
:
|
“Omong kosong!”
|
|
Wulan
|
:
|
“Beneran, Mas Jamal.
Tak kasih tau ya, Mas. Di Sekolah itu ada Bea siswa untuk anak yang
kurang mampu.”
|
|
Sekar
|
:
|
“Iya, bener tuh kata
Wulan. Jadi mas Jamal dan Sari juga bisa sekolah. Karena anak-anak seperti
kita ini adalah Tunas-tunas Bangsa ini. Jadi semua berhak mendapatkan
pendidikan yang layak.”
|
|
Jamal
|
:
|
“Oh ya? Aku nyesel
udah bentak-bentak Sari. Harusnya aku bisa sedikit lebih sabar.”
|
|
Wulan
|
:
|
“Sekarang Sari
kemana, Mas?”
|
|
Jamal
|
:
|
“Tadi dia sangat
marah dan berlari ke arah sana.” (menunjuk arah jalan).
|
|
Sekar
|
:
|
“Masya Allah! Kasihan
Sari. Ayo, lebih baik kita segera mencari Sari.”
|
|
Jamal dan Wulan
|
:
|
“Yuk!” (bergegas
pergi).
|
|
Untung
|
:
|
(celingukan). “Weleh…
weleh… kok aku ditinggalin sendirian to? Oh iya, berarti aku juga bisa
sekolah dong? Hoeee…! Tungguuuu….! Aku ikuuut!” (berlari mengejar
teman-temannya).
|
~SELESAI~
Selasa, 18 Desember 2012
TUNAS BANGSAKU
Mengiringi terbit mentari pagi
Menghantar pulang mentari terbenam
Melewati lorong panjang dan gelap
malam
Mengharap secercah sinar sang
rembulan
Jiwa-jiwa
yang lelah dan dahaga
Mata
yang nanar di bawah pijar lampu
Tangan-tangan
mungil menari – nari
Menoreh
tinta emas, mengukir harapan
Wajah - wajah polos nan ceria
Derap langkah kaki yang berlarian
Gambaran kejayaan hari esok
Lukisan dunia penuh mimpi dan asa
Kau
lah putra-putri bangsaku
Kepakkan
sayap-sayap perkasamu
Terbanglah
yang tinggi meraih bintang
Berjuanglah! Tunas Bangsaku..............
BY:
INN
Sabtu, 10 November 2012
PUISI
Gantungkan harapan di
awan putih
Melukis asa dan mimpi
seindah pelangI
Namun kini....
Matahari itu telah terbenam
Sayap- sayap emas itu telah patah
Oh... awan putih itu, cita dan asa
itu...
Sirna sudah terhempas badai
kehidupan
Seperti malam gelap gulita
Seperti langit tiada berbintang
Sejauh mata memandang buta
Kabut hitam di langit hatiku
By: Inn
Langganan:
Postingan (Atom)

